Terkadang kita menemukan artikel yang bagus di sebuah halaman web, namun untuk melakukan editing atau mencuplik sebagian isi dari artikel tersebut ternyata tidak dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan memblok kemudian copy artikel tersebut.
Cara yang bisa dilakukan adalah dengan save terlebih dahulu halaman web artikel yang kita maksud, kemudian file yang tadi kita save buka dengan aplikasi microsoft word.Setelah itu silahkan anda edit atau cuplik artikel yang anda inginkan.
Selamat mencoba
Tuesday, September 18, 2007
Mengcopy artikel dari halaman web yang tidak bisa di copy
Posted by
Help To Health
at
12:49 AM
1 comments
Remaja Berdiet Cenderung Jadi Perokok
Di kalangan para remaja, diet bukanlah hal yang aneh, apalagi jika tubuh langsing ideal begitu diidamkan. Sayangnya kebiasaan diet seringkali memicu timbulnya kebiasaan buruk. Sebuah survei terbaru mengungkapkan, para remaja yang melakukan diet cenderung menjadi perokok jika dibandingkan dengan rekannya yang menerima bentuk tubuh apa adanya.
Survei tersebut dibuat oleh Dr Mildred M.Maldonado-Molina dari Universitas Florida dan timnya yang mencoba menganalisa kaitan antara diet dan merokok. Untuk kepentingan survei ini tim peneliti menggunakan data dari lembaga studi kesehatan remaja di AS. Berdasarkan data dari tahun 1994 - 1996, dari sekitar 7.800 remaja di AS 55 persennya melakukan diet,dari jumlah ini yang konsisten melakukan diet mencapai 35 persen.
Ternyata gadis remaja yang mulai melakukan diet beresiko 1.9 kali menjadi perokok dibandingkan dengan remaja yang tidak diet. Risiko tersebut hampir sama pada remaja pria, yakni risikonya 1.7 persen. Boleh jadi para remaja ini berpikir rokok akan mengalihkan perhatian mereka dari keinginan makan.
Kecenderungan menjadi perokok juga lebih tinggi pada remaja yang dirumahnya sering ada rokok. Dengan kata lain, anak-anak cenderung mengikuti kebiasaan merokok orangtuanya. (An/reuters)
sumber http://www.kompas.co.id
Posted by
Help To Health
at
12:47 AM
1 comments
Ketombe Membandel? Jangan-Jangan Psoriasis!
Anda mungkin masih asing dengan kata psoriasis. Padahal, gejalanya termasuk umum. Misalnya, ketombe yang tak kunjung sembuh atau munculnya bintik-bintik merah dan bersisik di beberapa bagian tubuh. Salah satu penyebabnya adalah stres!
Jika tanpa alasan tiba-tiba di sebagian tubuh Anda muncul bercak-bercak merah seperti gigitan nyamuk dengan sisik yang tebal di ujung bintiknya, atau kulit kepala bersisik tebal dan lebar seperti ketombe yang terus-menerus muncul dan sulit hilang, sebaiknya mulai waspada. Siapa tahu Anda terkena psoriasis.
Apa, sih, psoriasis? Menilik dari gejala yang muncul, menurut Dr. Tina Wardhani Wisesa, Sp. KK, psoriasis merupakan kelainan pada kulit berupa bercak-bercak merah, berbatas tegas, dan di atasnya terdapat sisik yang tebal. "Sisik ini biasanya berlapis-lapis dan memberi gambaran seperti plastik mika yang transparan. Di antara lapisan-lapisan sisiknya, ada lapisan yang cukup tebal."
Uniknya, lanjut Tina, hingga saat ini penyebab psoriasis masih belum dapat dipastikan karena sangat kompleks. Namun, penyakit kulit ini dianggap berhubungan dengan kekebalan tubuh atau otoimun. "Pada orang normal, regenerasi kulit secara umum terjadi dan berlangsung sekitar 28-30 hari sekali. Nah, pada penderita psoriasis bisa berlangsung hanya dalam 3-4 hari saja. Makanya sisik kulitnya jadi menumpuk. Tetapi penumpukan sisik yang lebih cepat ini hanya terjadi di tempat tertentu saja," terang Tina.
Biasanya, sisik atau pertumbuhan kulit yang sangat cepat ini lebih sering terlihat di sekitar kulit kepala atau bagian kulit yang berambut. Misalnya, di sekitar dahi, yaitu di perbatasan antara kulit dahi dengan dahi yang berambut. Lalu di siku kedua tangan, lutut, punggung, hingga pantat. Bagian-bagian tersebut, pada penderita psoriasis, "Biasanya dipenuhi bercak merah yang dibarengi sisik."
Disangka KetombePsoriasis dapat menyerang siapa saja. Baik pria maupun perempuan dan usia berapa saja. "Anak-anak usia 10-12 tahun ke atas mulai bisa terkena penyakit kulit ini. Kasusnya memang lebih banyak menyerang orang dewasa muda usia 20-30 tahun."
Meski penyebabnya masih jadi misteri di kalangan dokter ahli kulit, namun Tina memaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menanggulangi psoriasis. "Yang perlu diperhatikan adalah faktor pencetus atau yang mendasari munculnya penyakit ini. Karena sifatnya case by case, faktor pencetus pada setiap penderita psoriasis berbeda satu sama lain."
Dari sejumlah faktor pencetus psoriasis, beberapa yang kerap disebut-sebut sebagai pemicunya adalah stres. Selain itu, terdapat sumber infeksi di dalam tubuh, misalnya di mulut, saluran pernapasan, gigi berlubang, amandel yang tak kunjung sembuh, atau infeksi di telinga. "Perempuan yang menderita psoriasis bisa saja dipicu oleh seringnya mengalami keputihan," ujar Tina.
Pada sebagian kasus, makanan juga bisa jadi faktor pendetus. Namun, faktor makanan ini tidak spesifik, karena hanya terjadi pada sedikit kasus saja. Tina pernah menemukan pasiennya menderita psoriasis yang makan daging kambing. "Ada juga yang disebabkan rokok dan kopi. Tapi faktor pencetus dari makanan bukan yang prioritas utama. Kemungkinan ini hanya faktor pencetus tambahan yang bisa membantu keluarnya psoriasis," lanjutnya.
Jika semua pencetus tadi berpotensi menimbulkan bintik-bintik merah dan bersisik di kulit, segeralah ke dokter. Tak jarang psoriasis muncul karena infeksi yang tak diobati hingga luput dari perhatian. Hal ini terjadi karena psoriasis terkadang timbul tanpa dapat diramalkan. Psoriasis bisa saja timbul seperti ketombe. Penderitanya hanya menganggap sisik-sisik yang muncul di kulit kepalanya sebagai ketombe saja dan hanya menggunakan sampo antiketombe. Karena ketidaktahuannya, ia tak segera mengobati dan membiarkannya saja. Setelah diperiksa, ternyata terkena psoriasis. Padahal, Tina mengingatkan, jika dibiarkan hingga bertahun-tahun lamanya, tanpa ia sadari psoriasis akan menyebar ke bagian tubuh lainnya, selain di kulit kepala.
Mengurangi KecantikanMelihat gejalanya, psoriasis terdengar cukup mengerikan. Sebenarnya penyakit kulit ini tergolong penyakit yang tak berbahaya, tak menular, dan tak akan menyebabkan kematian. Tetapi yang kemudian menjadi masalah bagi penderitanya adalah faktor kosmetis. "Banyak pasien datang ke dokter dengan dahi memerah dan bersisik. Ia jadi malu karena penampilannya terganggu. Hal inilah yang akhirnya membuat orang-orang tersadar dan mulai datang untuk berobat."
Tak hanya gangguan yang bersifat kosmetis, berdasarkan sifatnya, lanjut Tina, psoriasis merupakan penyakit kulit yang bersifat kronik residif atau kambuhan. Jadi, meskipun sudah sembuh bisa timbul lagi di kemudian hari.
Untuk mengatasinya, ada dua cara yang biasa dilakukan dokter. Pertama, pengobatan non-medika mentosa (tanpa obat), yaitu dengan memberikan edukasi kepada pasien, menjelaskan apa itu psoriasis, pencetusnya, perjalanan penyakitnya, dan sifatnya yang kronik residif. Kedua, pengobatan medika mentosa (dengan obat), yang biasanya berupa obat oles, kecuali jika psoriasisnya sudah sangat menyebar hingga sudah tak ada lagi kulit normal yang tersisa, harus diberi obat oral yang lebih sistemik.
Hal yang mengganggu akibat psoriasis di kepala adalah rontoknya rambut. "Ingat, kulit kepala yang terkena psoriasis tentu sudah tidak sehat, sehingga tempat tumbuh rambut pun jadi terganggu. Ini bisa mengakibatkan kerontokan yang cukup parah. Padahal, kita tahu rambut adalah mahkota."
Jika sisik seperti ketombe di kulit kepala masih tergolong ringan dan belum meluas, penderita masih bisa menggunakan sampo-sampo antiketombe yang bebas dijual di pasaran. Tetapi jika sudah lebih meluas, harus diatasi dengan obat yang lebih kuat dan dalam jangka waktu lama.
Psoriasis yang muncul di bagian tubuh lainnya pun, lanjut Tina, jika masih ringan dan hanya berupa sisik yang penyebarannya hanya lokal saja (tidak menyeluruh), misalnya di siku atau lutut saja, penderitanya masih bisa diminta untuk rajin-rajin menggunakan lotion atau pelembab kulit biasa untuk mengurangi sisik-sisik tebal. Jika masih ringan, 3-4 hari saja sudah bisa sembuh.
Namun, jika warna kemerahan di kulit tak hilang karena lotion, diperlukan obat dari dokter. "Biasanya berupa obat antiradang untuk menipiskan warna merah dan sisiknya. Obat yang diberikan juga diharapkan untuk mencegah psoriasisnya muncul lagi. Namun, obat oles yang diberikan, tak dapat digunakan sebagai pencegahan. Jadi, psoriasis baru bisa diobati jika sudah muncul di kulit."
Sumber: Nova
Sumber htpp://Kompas.co.id
Posted by
Help To Health
at
12:34 AM
0
comments